Diaspora Indonesia dan Peran Strategis Nahdliyin

18 hours ago 5
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

DALAM beberapa pekan terakhir, muncul perbincangan hangat terkait dengan keinginan warga Indonesia untuk pindah ke luar negeri. Tagar #KaburAjaDulu bermunculan di media sosial serta menyedot perhatian publik yang luar biasa. Faktor ekonomi nasional, kontestasi politik, dan transisi pemerintahan yang dinamis menjadikan sebagian warga berniat mendedikasikan hidup untuk berkarya di negeri lain.

Apalagi dengan maraknya pemberitaan mengenai kasus korupsi di berbagai lembaga yang menjerat pejabat tinggi serta pengusaha, yang angkanya hingga ratusan triliun rupiah. Ibaratnya, kasus-kasus korupsi berhamburan menjadi liga tertentu, yang membikin harapan terhadap Indonesia Emas 2045 semakin suram.

Perbincangan yang melebar di media sosial tentang kesempatan pekerjaan serta kualitas hidup di Indonesia menjadi diskursus yang beragam. Generasi muda lebih tertantang untuk mencari peluang berkarier di luar negeri, dengan jalur sekolah maupun langsung mencari pekerjaan. Penulis berpendapat bahwa perbincangan mengenai hal itu juga ada manfaat positifnya, di antaranya agar warga Indonesia lebih terbuka dengan pelbagai kemungkinan berkarier di manapun berada, asalkan tetap menjaga identitas bangsa.

Pada beberapa tahun terakhir, dalam tugas riset maupun keperluan keluarga, penulis berinteraksi dengan banyak warga Indonesia yang bermukim di berbagai negara. Dari perjalanan di Amerika Serikat, Eropa, Australia, Timur Tengah, dan beberapa kawasan Asia, penulis menyelami karakter serta seluk beluk kehidupan warga Indonesia yang menjalani nasib bermukim di luar negeri. Mereka merupakan diaspora Indonesia yang punya cerita hidup berwarna. Setiap warga yang saya temui bercerita tentang kisah hidup yang berbeda, dengan perjuangan masing-masing yang mengharukan.

Sebagian diaspora Indonesia juga menempati pos-pos pekerjaan bergengsi di luar negeri. Mereka menjadi profesional di pelbagai bidang, profesor di berbagai kampus, pendidik, serta sebagai pekerja di berbagai sektor. Penulis menemukan orang-orang tangguh yang punya dedikasi sekaligus merah putih yang masih menyala kuat di nadinya. Dari konteks ini, keinginan sebagian warga untuk berkiprah di luar negeri juga bermakna positif, yang menjadikan mereka bisa berkarya lebih leluasa dan menemukan makna hidup dengan keluarga.

Senang sekali jika berdiskusi dan mengobrol santai dengan para diaspora Indonesia yang menjadi profesor di sebuah kampus New York dan kampus lain di Amerika Serikat, atau profesional yang bekerja sebagai ekonom di sebuah bank Amerika di London. Juga, seorang kawan yang menjadi chief of digital strategy di sebuah lembaga pemerintah di Dubai. Atau kawan-kawan yang bekerja sebagai peneliti nanoteknologi di Jepang, serta periset optik di Cambridge Inggris atau di Karlsruhe Jerman.

Meski demikian, ada juga cerita-cerita sedih dan ratapan tangis. Penulis teringat ketika bersama Muslimat Inggris dan beberapa lembaga mengadvokasi seorang ibu pekerja migran yang kehilangan pekerjaan serta tidak mendapat kompensasi yang layak dari majikan. Kami berkoordinasi dengan KBRI London serta pemerintah lokal di London untuk mengakses benefit yang bisa didapatkan dalam kasus pekerja yang diputus kontraknya tanpa sebab. Alhamdulillah, singkat cerita, ibu pekerja migran tersebut bisa mendapatkan haknya.

PERSEBARAN DIASPORA INDONESIA

Diaspora Indonesia menyebar di berbagai kawasan dan negara lain, dengan ragam, konteks, dan jalan hidup masing-masing. Data dari GoodStats (2023), sebaran diaspora Indonesia di beberapa negara tergambar dengan data berikut ini: Malaysia (3.500.000 orang), Belanda (1.700.000), Arab Saudi (1.000.000), Taiwan (300.000), Singapura (198.444), Hong Kong (168.214), Amerika Serikat (142.000), Uni Emirat Arab (111.987), Brunei Darussalam (80.000), serta Suriname (80.000). Negara-negara lain semisal United Kingdom, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan beberapa kawasan lain menjadi tujuan dari diaspora Indonesia dengan data populasi yang lebih sedikit.

Istilah diaspora berasal dari bahasa Yunani, yakni dia yang berarti menyeberangi (across) dan speirein yang bermakna terpencar (scatter). Kata ‘diaspeirein’ diartikan dalam bahasa Inggris sebagai ‘disperse’ dan ‘dispersion’, yang dimaknai sebagai persebaran dalam area atau lingkup geografis yang luas. Kemudian, pada abad ke-18, istilah diaspora digunakan untuk merujuk kelompok massa yang tersebar, dalam konteks sejarah pada masa persekusi Kerajaan Gereja Moravia dari Republik Ceko serta persebaran warga Yahudi ke pelbagai penjuru dunia.

Laporan Bank Dunia (2017) bertajuk Indonesia’s Global Worker: Juggling Opportunities and Risk mencatat warga Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam pelbagai bidang keahlian. Dari laporan ini tercatat bahwa warga Indonesia yang bekerja di luar negeri mencapai 9 juta orang. Dari angka itu, porsi tertinggi yakni pada bidang pekerja rumah tangga atau perawat (32%), kemudian bidang pertanian (19%), pekerja konstruksi (18%), serta pegawai pabrik (8%).

Pada 2016, diaspora menyumbang Rp118 triliun ke perekonomian Indonesia melalui remitansi, dengan sebagian besar data disumbangkan oleh diaspora yang berada di Malaysia (55%). Kemudian, persentase berikutnya disumbangkan pekerja Indonesia yang bermukim di Arab Saudi (13%), Taipei (10%), dan kemudian Hong Kong (6%).

Selain laporan Bank Dunia, riset yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menggambarkan wajah diaspora Indonesia yang lebih beragam. Pada riset ini, BRIN berupaya membangun gambaran karakteristik diaspora Indonesia, yang diselenggarakan pada 2021 lalu. Riset BRIN diselenggarakan dengan survei berdasarkan aspek geografis, demografis, sosiologis, kultural historis, hingga politik hukum. Studi ini melibatkan 1.493 responden yang berdomisili di 90 negara, dengan periode survei pada 27 Juni-30 Juli 2021.

Hasil studi BRIN menyebutkan bahwa mayoritas tingkat pendapatan bersih bulanan bagi diaspora Indonesia kurang dari US$1.999 (36,13%). Rentang pendapatan bulanan bersih tertinggi yakni US$14.000 (6,91%). Pada karakteristiknya, mayoritas bekerja di sektor pemerintahan (15,87%) dan sektor jasa (11,09%).

Adapun posisi dalam pekerjaan utama mayoritas sebagai tenaga professional (37,54 %), kemudian yang berada di level pemilik serta manajer masing-masing pada angka 9,54% dan 14,64%. Riset BRIN ini memang memberi konstruksi wajah dan karakter yang berbeda terkait dengan diaspora Indonesia, meski secara proporsi dan persebaran perlu diperkuat dengan riset lain yang lebih komprehensif.

Diaspora Indonesia juga memendam keinginan untuk pulang ke negeri asal dalam beberapa tahun mendatang. Survei Robert Walters yang dipublikasikan pada 2023 (Kompas, Januari 2025) mengungkap hal itu bahwa setidaknya 60% diaspora berencana untuk kembali ke Indonesia dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Harapan untuk pulang ini meningkat jika dibandingkan dengan data sebelumnya yang hanya 46% menyatakan hal serupa (data 2021).

Ada beberapa faktor yang memengaruhi keinginan untuk pulang ke Tanah Air, yaitu mengurus orangtua atau membangun relasi yang lebih dekat dengan pasangan/keluarga (68%), kedekatan emosional, sosial, dan kultural dengan tanah air (36%), peluang pekerjaan yang lebih menarik (29%), kontribusi kepada negara (25%), serta keinginan untuk pensiun di tanah kelahiran (20%).

Selain itu, terungkap juga faktor yang menyebabkan diaspora enggan kembali ke kampung halaman. Terutama disebabkan oleh faktor perbedaan standar gaji dan kompensasi oleh perusahaan di Indonesia jika dibandingkan dengan di luar negeri (68%), kualitas hidup yang kurang memadai (45%), serta permasalahan keamanan dan isu rasial (39%).

PERAN DIASPORA NAHDLIYIN

Dari sekitar 9 juta diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara, ada ikatan emosional dan relasi agama yang masih menancap. Itu tergambar dari tingginya keinginan mendirikan masjid atau ruang ibadah di berbagai kota atau negara di mana terdapat populasi diaspora yang besar.

Dalam perbincangan saya dengan warga Indonesia di New York beberapa waktu lalu, ada kerinduan besar untuk bersilaturahim dan mengkaji agama bersama-sama, yang menjadi latar belakang pendirian Masjid Al-Hikmah di kawasan Astoria, New York. Hal yang sama pun saya dapati ketika berinteraksi dengan warga Indonesia di Belgia dan Jepang, yang juga mendirikan masjid dalam beberapa tahun terakhir.

Masjid-masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga destinasi kunjungan ketika warga Indonesia sedang mampir di kota atau negara tersebut. Bahkan, masjid-masjid yang didirikan oleh warga Nahdliyin di Jepang juga menjadi ruan...

Read Entire Article