Dikutip dari Reuters, tahun lalu Shell mengumumkan penjualan fasilitasnya di Pulau Bukom dan Pulau Jurong, yang telah beroperasi sejak 1961. Kesepakatan ini menjadikan Chandra Asri, perusahaan yang berbasis di Indonesia dan pemilik mayoritas perusahaan patungan tersebut, sebagai salah satu pemain petrokimia terbesar di Asia Tenggara.
Ketentuan finansial dari kesepakatan ini, yang sebelumnya dijadwalkan rampung pada akhir 2024, belum diungkapkan.
Shell mengatakan bahwa staf di lokasi tersebut akan tetap bekerja dengan perusahaan baru, yaitu Aster Chemicals and Energy Pte Ltd. Juru Bicara Aster mengungkapkan staf yang berbasis di kantor pada perusahaan baru tersebut pindah ke kantor Aster pada Selasa (1/4).
Chandra Asri telah melakukan beberapa pembelian nafta open-spec untuk pengiriman ke Singapura mulai Maret, setelah mengambil alih pengadaan bahan baku petrokimia Aster, menurut beberapa sumber yang mengetahui masalah tersebut.
“Aster secara aktif mengevaluasi peluang kompetitif untuk pengadaan bahan baku sesuai dengan kondisi pasar yang berlaku,” ujar Juru Bicara Aster.
Menurut data pelacakan kapal dari Kpler, situs kimia di bawah pengelolaan Shell di Pulau Jurong mengimpor sekitar 1,5 juta ton metrik nafta per tahun pada 2023 dan 2024.
Di sisi lain, perusahaan perdagangan asal Swiss, Glencore, telah membeli beberapa kargo minyak mentah yang dijadwalkan tiba di Singapura pada Mei dan Juni, termasuk yang berasal dari Kanada dan Kazakhstan, menurut dua sumber yang mengetahui transaksi tersebut.
Minyak mentah asal Kanada belum pernah dikirim ke Singapura sebelumnya, terbukti dari tidak adanya catatan volume dalam data pelacakan kapal dari Kpler dan LSEG sejak 2013 dan 2017.
Glencore belum segera menanggapi pertanyaan dari Reuters. Sementara Shell mengatakan perusahaan telah menandatangani perjanjian pasokan minyak mentah dan pengambilan produk yang akan berlaku setelah penyelesaian penjualan.